Apa yang dimaksud dengan Persediaan Barang (Inventory)?

Apa yang dimaksud dengan Persediaan Barang (Inventory)?


image
Persediaan barang dagangan (merchandise inventory) merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali dalam kegiatan operasional normal perusahaan. Persediaan pada perusahaan pabrikan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan dalam proses dan persediaan barang jadi.

Dasar-dasar Persediaan

  • Neraca dalam perusahaan manufaktur dan dagang menggambarkan persediaan merupakan aktiva lancar yang jumlahnya sangat besar.
  • Laporan rugi laba, persediaan merupakan hal yang sangat menentukan keuntungan atau hasil usaha.
  • Pendapatan kotor, (penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan) diawasi oleh manajemen perusahaan, pemilik maupun pihak-pihak lain.
Karakteristik Persediaan Barang Dagangan
  1. Persediaan Barang Dagangan dimiliki oleh perusahaan
  2. Dalam bentuk siap untuk dijual
Pengelompokan Persediaan dalam Lingkungan Pabrikan (manufacturing)
  1. Persediaan pabrikan mungkin bukan merupakan persediaan yang siap dijual
  2. Diklasifikasikan dalam tiga kategori:
    • barang jadi, siap dijual kepada konsumen
    • sedang dalam proses produksi, beberapa tahap produksi (belum selesai)
    • bahan baku atau mentah, komponen atau bahan yang siap untuk digunakan dalam proses produksi
Penentuan Kuantitas Persediaan
Dalam mempersiapkan laporan keuangan perlu ditentukan:
  1. Jumlah unit dalam persediaan dengan cara menghitung, menimbang atau mengukur jumlah barang persediaan secara fisik yang ada di perusahaan.
  2. Kepemilikan barang.
Pengelolaan Fisik Persediaan
Prinsip-prinsip pengendalian intern untuk persediaan meliputi:
  1. Pemisahan tugas, penghitungan persediaan dilakukan oleh karyawan yang bukan bertugas mengawasi persediaan.
  2. Penyelenggaraan pertanggungjawaban, masing-masing bagian dalam pengelolaan persediaan wajib menggunakan otorisasi yang otentik.
  3. Verifikasi intern yang independen, penghitungan ulang persediaan oleh petugas yang lain dan dilakukan penandaan terhadap item barang persediaan. Penandaan hanya dilakukan sekali.
  4. Prosedur pendokumentasian, menggunakan penandaan barang dengan dokumen yang sudah dinomori sebelumnya (prenumbered)
Kepemilikan Persediaan dalam Perjalanan
  1. Persediaan barang dalam perjalanan, meliputi pihak yang berhak menerima persediaan.
  2. FOB (Free on Board), shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.
  3. FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.

Gambar Syarat Penjualan
Barang Konsinyasi
Konsinyasi: Pemegang atau penjual barang (consignee) bukan merupakan pemilik barang. Karakteristiknya:
  1. Kepemilikan tetap berada ditangan pemilik barang (consignor) sampai barang tersebut terjual.
  2. Barang konsinyasi merupakan persediaan barang dagangan milik consignor, bukan persediaan milik consignee.
Sistem Akuntansi Persediaan
  1. Perpetual (perpetual inventory system)
    Sistem pencatatan perpetual selalu membuat catatan setiap terjadinya mutasi persediaan (pembelian, penjualan, ataupun retur)
  2. Periodik (periodic inventory system)
    Pada akhir periode akuntansi dengan menggunakan sistem pencatatan periodik harus melakukan pengecekan fisik terhadap persediaan (stock opname of inventories) dengan cara mengukur dan menghitung berapa jumlah barang yang ada di gudang. Sistem pencatatan ini pada akhir periode dibutuhkan ayat jurnal penyesuaian sebagai berikut:
    Untuk persediaan awal :
    image
    Untuk persediaan akhir :
    image

PENILAIAN PERSEDIAAN

1. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flow approach)
Dalam pendekatan ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem perpetual yang masing-masing ada tiga cara penilaian persediaan, yaitu:
  • FIFO (First in First Out), masuk pertama keluar pertama
    Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.
  • LIFO (Last In First Out), masuk terakhir keluar pertama
    Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
  • Metode Rata-rata (average method)
    Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
2. Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok
Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan, yaitu:
  • Lower Cost of Market
    Yaitu metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak normal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa. Pokok dari metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilai pasar (replacement value) dan nilai perolehan (cost). Nilai pasar yang akan dipilih harus dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas bawah (floor limit) dan tidak boleh lebih tinggi dari batas atas (ceiling limit).
  • Gross Profit Method
    Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan, misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaannya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rata selama beberapa tahun.
    Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
    1. mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,
    2. menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan pada persentase laba kotor yang telah diketahui dan
    3. menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok penjualan terhadap penjualan
  • Retail Method
    Metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran. Nilaii persediaan akhir dengan harga pokok akan diketahui dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaan yang tersedia untuk dijual dengan pendekatan harga pokok dibandingkan dengan pendekatan ritel. Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan persediaan akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran dapat dirumuskan sebagai berikut:

Contoh Soal

image
a) hitunglah nilai persediaan akhir (per 31 Desember 2001) sistem periodik dan sistem perpetual dengan metode FIFO, LIFO dan rata-rata (average)!
b) Hitunglah harga pokok penjualan dan laba kotor!
Jawaban :
Persediaan Akhir
1. Sistem Periodik

image
a) FIFO (masuk pertama keluar pertama)
Persediaan akhir
image
b) LIFO (masuk terakhir keluar pertama)
Persediaan akhir
image
c) Rata-rata (average)
image
2. Sistem Perpetual

a. FIFO (masuk pertama keluar pertama)
image
b. LIFO (masuk terakhir keluar pertama)
image
c. Rata-rata (average)
image

Harga Pokok Penjualan

1. Sistem Periodik
image
2. Sistem Perpetual
image

Penjualan

image

Laba Kotor

1. Sistem Periodik
image
2. Sistem Perpetual
image

Jurnal

1. Periodik (FIFO)
Mencatat Pembelian:
image
Mencatat Penjualan:
image
Penyesuaian untuk Persediaan:
image
2. Perpetual (FIFO)
Mencatat Pembelian:
image
Mencatat Penjualan:
image
Sumber : Windy, Akuntansi Persediaan

Persediaan merupakan simpanan material yang berupa bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi.
Inventory meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual kembali atau dikomsumsikan dalam siklus operasi normal perusahaan sebagai barang yang dimiliki untuk dijual atau diasumsikan untuk dimasa yang akan datang, semua barang yang berwujud dapat disebut sebagai inventory, tergantung dari sifat dan jenis usaha perusahaan.
Menurut Koher,Eric L.A. Inventory adalah :
“Bahan baku dan penolong, barang jadi dan barang dalam proses produksi dana barang-barang yang tersedia, yang dimiliki dalam perjalanan dalam tempat penyimpanan atau konsinyasikan kepada pihak lain pada akhir periode”.
Secara umum pengertian Inventory adalah merupakan suatu aset yang ada dalam bentuk barang-barang yang dimiliki untuk dijual dalam operasi perusahaan maupun barang-barang yang sedang di dalam proses pembuatan.
Diantara pengertian diatas maka inventory dapat diklasifikasikan yang ditentukan oleh perusahaan, apabila jenis perusahaan yang membeli barang akan dijual lagi, maka klasifikasi hanya ada satu macam saja persedian barang dagangan. Sedangkan bila jenis perusahaan adalah pabrikasi yaitu perusahaan yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi.

Klasifikasi Inventori


Ada beberapa macam klasifikasi inventori, menurut Dobler at al, ada beberapa klasifikasi inventori yang digunakan oleh perusahaan, antara lain [3]:
  • Inventori Produksi
    Yang termasuk dalam klasifikasi invetori produksi adalah bahan baku dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam proses produksi dan merupakan bagian dari produk. Bisa terdiri dari dua tipe yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk spesifikasi perusahaan dan item standart produksi yang dibeli secara off-the-self.
  • Inventori MRO (Maintaintenance, Repair, and Operating supplies)
    Yang termasuk dalam katagori ini adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi namun tidak merupakan bagian dari produk. Seperti pelumas dan pembersih.
  • Inventori In-Process
    Yang termasuk dalam katagori inventori ini adalah produk setengah jadi. Produk yang termasuk dalam katagori inventori ini bisa ditemukan dalam berbagai proses produksi.
  • Inventori Finished-goods
    Semua produk jadi yang siap untuk dipasarkan termasuk dalam katagori inventori finished goods. PT XYZ adalah sebuah swalayan yang menjual produk- produk yang siap untuk dipakai. Tidak ada proses pengolahan yang ada disana, sehingga semua inventori yang dimilikinya termasuk dalam katagori ini.
Salah satu perlunya inventory dilaksanakan dengan baik yaitu mengetahui secaraa pasti harga pokok dari barang-barang dagangan yang terjual. Disamping itu untuk menjamin lancarnya arus lintas barang maka perlu diadakan pencatatan terhadap segala penerimaan barang yang berasal dari supplier,barang yang dipesan oleh langganan, barang yang terjual, barang yang dikembalikan oleh langganan dan penyesuaian-penyesuaian (adjusment) terhadap barang.
Atas dasar pencatatan tersebut nantinya dapat diketahui antara lain barang mana yang banyak tertimbun (over stock) barang mana yang harus dipesan kembali kepada supplier karena persediannya sudah menipis, apabila terjadi pemesanan barang kepada supplier, maka pemesanan ini perlu pula dicatat untuk mendapatkan informasi tentang inventory yang lengkap, bila segala transaksi yang disebut diatas tidak dicatat dengan baik maka akan menemui kesulitan untuk mengetahui keadaan inventory secara pasti pada suatu saat misalnya kesulitan untuk mengetahui berapa jumlah persedian barang yang ada dan yang sudah dipasarkan serta jumlah barang yang sudah dipesan oleh langganan (Quantity Committed) dan berapa jumlah barang yang dipesan kepada supplier (Quantity Sold) dan informasi penting lainnya.
Mengurangi inventori barang. Inventori merupakan aset perusahaan yang berkisar antara 30%-40% sedangkan biaya penyimpanan barang berkisar 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.

Alasan Memiliki Persediaan


Laba yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan jarang.
Jadi meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam jumlah yang relatif besar, sehingga mendorong jumlah persediaan yang besar. Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan dalam jumlah yang relatif besar adalah masalah ketidakpastian permintaan.
Jika permintaan akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka persediaan dapat berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan kemampuan untuk memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan adalah sebagai berikut :
  1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya penyimpanan.
  2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal pengiriman.
  3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat :
    • Kerusakan mesin
    • Kerusakan komponen
    • Tidak tersedianya komponen
    • Pengiriman komponen yang terlambat
  4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
  5. Untuk memanfaatkan diskon
  6. Untuk menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang.

Elemen Harga Pokok Bahan Baku


Terdapat empat kelompok biaya yang mempengaruhi harga pokok persediaan bahan baku, yaitu :
  1. Harga FakturHarga faktur adalah harga yang disetujui antara perusahaan dengan pemasoknya. Potongan pembelian akan mengurangi harga faktur, sedangkan biaya angkut yang ditanggung perusahaan diperlakukan sebagai tambahan harga faktur.
  2. Biaya Pemesan Bahan Baku. Biaya ini disebut juga procurement cost atau ordering cost yaitu biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan pembelian bahan baku. Biaya ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
    • Biaya Pemesan Tetap
    • Biaya Pemesan Variabel
  3. Biaya Penyimpan Bahan Baku. Biaya ini disebut juga storage cost atau carrying cost yaitu biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan agar siap dipakai di dalam kegiatan produksi. Biaya ini dikelompokkan menjadi dua yaitu :
    • Biaya Pemesan Tetap
    • Biaya Pemesan Variabel
  4. Biaya Ketidakcukupan Persediaan. Biaya ini timbul akibat adanya persediaan bahan baku yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi. Biaya ini meliputi : kerugian hilangnya penjualan, tambahan biaya angkut karena dibeli secara mendadak, tuntutan dari pelanggan karena keterlambatan, dan tambahan biaya karena tidak teraturnya proses produksi.
Pengendalian persediaan: aktivitas mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat yang dikehendaki.
Pada produk barang, pengendalian persediaan ditekankan pada pengendalian material. Pada produk jasa, pengendalian diutamakan sedikit pada material dan banyak pada jasa pasokan karena konsumsi sering kali bersamaan dengan pengadaan jasa sehingga tidak memerlukan persediaan.
Akibat kelebihan persediaan:
  • Beban bunga meningkat
  • Biaya penyimpanan dan pemeliharaan
  • Resiko rusak
  • Kualitas menurun.
Akibat kekurangan persediaan:
  • Proses produksi terganggu
  • Ada kapasitas mesin yang tidak terpakai
  • Pesanan tidak dapat terpenuhi.
Jenis – jenis persediaan :

Safety stock


Merupakan persediaan minimal yang harus ada agar perusahaan dapat berjalan normal. Semakin besar safery stock maka perusahaan kemungkinan khabisan persedian akna semakin kecil.
Safety stock adalah istilah yang digunakan oleh spesialis persediaan untuk menggambarkan tingkat stok tambahan yang dipertahankan di bawah siklus saham untuk penyangga terhadap stockouts. Safety Stock (juga disebut Buffer Stock) ada untuk menghadapi ketidakpastian dalam penawaran dan permintaan. Safety stock didefinisikan sebagai unit tambahan persediaan dibawa sebagai perlindungan terhadap kemungkinan stockouts (kekurangan bahan baku atau kemasan). Dengan memiliki jumlah yang memadai safety stock di tangan, sebuah perusahaan dapat memenuhi permintaan penjualan yang melebihi perkiraan permintaan mereka tanpa mengubah rencana produksi mereka.
Hal ini diadakan ketika suatu organisasi tidak dapat secara akurat memprediksi permintaan dan / atau tenggang waktu untuk produk. Ini berfungsi sebagai asuransi terhadap stockouts.
Dengan produk baru, safety stock dapat dimanfaatkan sebagai alat strategis sampai perusahaan dapat menilai seberapa akurat ramalan mereka adalah setelah beberapa tahun pertama, terutama bila digunakan dengan perencanaan kebutuhan material worksheet. Yang kurang akurat peramalan, yang lebih safety stock diperlukan. Dengan perencanaan kebutuhan material (MRP) lembar sebuah perusahaan dapat menilai berapa banyak mereka akan perlu untuk memproduksi untuk memenuhi permintaan penjualan diperkirakan tanpa mengandalkan safety stock.
Namun, strategi yang umum adalah untuk mencoba dan mengurangi tingkat persediaan pengaman untuk membantu menjaga biaya persediaan rendah sekali permintaan produk menjadi lebih diprediksi. Ini dapat sangat penting bagi perusahaan dengan keuangan yang lebih kecil bantal atau mereka yang berusaha untuk berjalan di lean manufacturing, yang bertujuan untuk menghilangkan pemborosan seluruh proses produksi.
Jumlah safety stock sebuah organisasi memilih untuk terus di tangan dapat secara dramatis mempengaruhi bisnis mereka. Terlalu banyak safety stock dapat mengakibatkan biaya tinggi memegang persediaan. Selain itu, produk yang disimpan terlalu lama dapat merusak, kedaluwarsa, atau istirahat selama proses pergudangan. Terlalu sedikit safety stock dapat mengakibatkan kehilangan penjualan dan, dengan demikian, yang lebih tinggi tingkat perputaran pelanggan. Akibatnya, menemukan keseimbangan yang tepat antara terlalu banyak dan terlalu sedikit safety stock adalah sangat penting.
1 bulan kemudian

Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi kegiatan perusahaan dagang. Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur maupun dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah terlihat ketika kegiatan bisnis sedang berfluktuasi.
Persediaan merupakan salah satu elemen penting dalam menentukan harga pokok penjualan pada perusaaan dagang eceran maupun perusahaan dagang partai besar, persediaan barang dagang merupakan elemen penting dalam penentuan harga pokok pada perusahaan barang dagang. Secara umum istilah persediaan barang dagang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang akan dijual.
Mardianso (2009) mengatakan bahwa persediaan adalah barang-barang yang dibeli perusahaan dengan maksud untuk dijual kembali (barang dagangan), atau masih dalam proses produksi yang akan diolah lebih lanjut menjadi barang jadi kemudian dijual (barang dalam proses) produksi barang jadi yang kemudian dijual (bahan baku pemabantu).
Menurut Soemarso (2010) bahwa persediaan memiliki beberapa pengertian sebagai berikut:
  1. Persediaan adalah bagian aktiva lancar yang paling tidak likuid. Disamping itu, Persediaan adalah aktiva dimana kemungkinan kerugian /kehilangan paling sering terjadi.
  2. Persediaan barang dagangan (merchandase inventory) adalah barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali sedangkan untuk perusahaan pabrik, termasuk persediaan adalah barang-barang yang akan digunakan untuk proses produksi selanjutnya.
Istilah “persediaan” didefinisikan dalam PSAK NO 14 Tahun 2009 adalah sebagai aset yang (paragraf 7):
  1. Dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
  2. Dalam proses produksi untuk dijual; atau
  3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (suplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Sesuai definisinya, persediaan merupakan aset lancar. Dengan demikian, aset tidak lancar, misalnya pabrik dan peralatan yang yang dapat diartikan “dikonsumsi dalam proses produksi”, tidak diperlakukan sebagai bagian dari persediaan.
Inventory atau persediaan barang dagang sebagai elemen utama dari modal kerja merupakan Aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, dimana secara terus-menerus mengalami perubahan. Weygandt, Kieso, dan Warfield (2011) menyatakan persediaan adalah
“Inventories are asset items that a company holds for sale in the ordinary course of business or goods that it will use or consume in the production of goods to be sold”
Dengan adanya beberapa pendapat para ahli diatas tentang pengertian persediaan, maka dapat disimpulkan bahwa persediaan barang dagang adalah untuk dijual dalam operasi bisnis perusahaan atau dengan kata lain perusahaan bisa menyimpan persediaan sebelum dijual didalam sebuah gudang yang sering berlaku untuk pedagang-pedagang besar seperti retail yang perputaran persediannya cukup tinggi dan beragam untuk mengantisipasi penjualan supaya tidak terjadi kekurangan persediaan.
Persediaan memiliki beberapa fungsi penting bagi perusahaan:
  1. Agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi akan terjadi,
  2. Untuk menyeibangkan produksi dengan distribusi,
  3. Untuk hedging dari inlasi dan perubahan harga,
  4. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas ,karena membeli dalam jumlah yang banyak atau diskon,
  5. Untuk menghindari kekurangan persediaan yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, mutu, dan ketidak tepatan pengiriman,
  6. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses.

Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal di hampir setiap perusahaan. Di satu pihak, suatu perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara menurunkan tingkat persediaan di tangan. Namun di pihak lain, konsumen akan merasa tidak puas jika persediaan suatu produk habis.
Oleh karena itu, perusahaan harus mencapai keseimbangan antara tingkat investasi persediaan dengan tingkat permintaan konsumen.
Menurut Heizer dan Render (2009), persediaan adalah barang yang siap dijual tetapi masih merupakan aset dalam pembukuan perusahaan.
Menurut Handoko (2003), persediaan (*inventory) * merupakan suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.
Menurut Herjanto (2008), persediaan adalah bahan atau barang yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk digunakan dalam proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, atau untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin.
Dari pendapat-pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa persediaan merupakan segala jenis sumber daya yang disimpan untuk digunakan dalam proses produksi agar dapat memenuhi permintaan konsumen.

Jenis-Jenis Persediaan

Menurut Handoko (2003) terdapat beberapa jenis persediaan, di mana setiap jenis memiliki karakteristik khusus dan cara pengelolaannya berbeda yaitu :
  1. Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persediaan barang-barang berwujud seperti baja, kayu, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari supplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
  2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, di mana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
  3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
  4. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang- barang yang merupakan keluaran (output) dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
  5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.
Pengendalian persediaan sangat penting untuk dilakukan karena banyak melibatkan investasi rupiah terbesar dalam aktivitas operasional perusahaan. Jika perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, maka akan menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan dan mungkin mempunyai “opportunity cost (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih menguntungkan). Demikian pula, jika perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, maka dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan.

Biaya-Biaya Persediaan

Tujuan dari mengendalikan persediaan adalah untuk menyediakan jumlah bahan baku yang tepat dengan biaya yang rendah. Biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan.
Dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi besarnya atau jumlahnya persediaan, menurut Heizer dan Render (2009) ada beberapa variabel biaya yang harus dipertimbangkan sebagai berikut:
  1. Biaya Penyimpanan (holding cost/carrying cost)
    Biaya Penyimpanan adalah biaya yang terkait dengan menyimpan persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga.
  2. Biaya Pemesanan (order cost)
    Biaya Pemesanan mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dst. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari penyetelan.
  3. Biaya Penyiapan (setup cost)
    Biaya Penyiapan terjadi ketika perusahaan tidak membeli bahan-bahan dari pihak eksternal tetapi memproduksi sendiri di dalam pabrik perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya ini terdiri dari biaya mesin-mesin menganggur, biaya persiapan tenaga kerja langsung, biaya scheduling, biaya ekspedisi, dan sebagainya.

Persediaan merupakan kumpulan beberapa jenis barang atau sumber daya yang digunakan dalam suatu organisasi. Sistem inventori mengatur kebijakan dan prosedur yang mengontrol tingkat inventori dan menentukan tingkat seberapa harus dijaga, saat stok harus diperbaharui, dan berapa banyak order harus dipenuhi.
Sedangkan Chase, Jacobs and Aquilano (2006) mendefinisikan persediaan barang sebagai kumpulan (Stok) untuk setiap item sumber daya yang digunakan didalam organisasi. Dengan demikian, sebuah sistem persediaan barang berarti sebuah kumpulan dari kebijakan - kebijakan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan barang dan menentukan pada tingkat berapa persediaan barang harus dijaga, kapan stok harus diisi dan seberapa besar order harus dilakukan.
Berdasarkan definisi persediaan diatas, terlihat bahwa persoalan persediaan yang sering timbul adalah bagaimana cara mengatur persediaan sehigga setiap kali ada permintaan, permintaan tersebut segera dapat dipenuhi tetapi dengan tetap meminimalisir jumlah persediaan itu sendiri. Secara prinsip tersedianya tingkat persediaan barang yang cukup banyak, maka setiap saat permintaan dapat segera terlayani, akan tetapi memiliki dampak terhadap biaya penyimpanan yang menjadi sangat mahal.
Menurut konvensi persediaan, perusahaan manufaktur biasanya mengacu kepada material yang menyumbang atau menjadi salah satu bagian dari produk perusahaan tersebut. Persediaan perusahaan manufaktur secara umum biasanya diklasifikasikan menjadi bahan baku, bahan penunjang ( Supplies ), part atau komponen, barang setengah jadi dan barang jadi. Lebih detilnya adalah sebagai berikut (Bowersox, Donald and David, 1996):
  • Persediaan bahan baku ( Raw Material ) adalah persediaan yang akan masuk kedalam proses produksi dan nantinya akan menjadi bagian dari produk jadi.
  • Persediaan komponen rakitan ( Purchased Part ) meliputi komponen – komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, yang secara langsung akan dirakit menjadi suatu produk.
  • Persediaan bahan pembantu ( Supplies ) yaitu bahan yanng diperlukan dalam proses produksi, namun tidak akan menjadi bagian dari produk jadi, contohnya adalah oli, lubrikan, cairan pelarut dan lain - lain.
  • Persediaan setengah jadi (WIP) adalah hasil keluaran, masing – masing bagian di dalam rangkaian proses produksi, sudah memiliki bentuk sebagai suatu produk tetapi masih memerlukan proses lanjutan untuk menjadi produk yang siap dijual.
  • Persediaan barang jadi ( Finished Goods ) adalah jenis persediaan yang telah selesai diproses produksi dan siap untuk dikirim dan dijual kepada pelanggan.
Tujuan utama dari analisis inventori di perusahaan manufaktur adalah :
  • Kapan suatu item hendak di order ?
  • Berapa banyak order yang diperlukan dan harus dipesan ?
Banyak perusahaan memiliki strategi untuk cenderung menjalin hubungan yang bersifat jangka panjang ( long term) dengan para pemasok mereka untuk memasok kebutuhannya. Tentunya hal tersebut akan mengubah ”kapan” dan ”berapa banyak order” menjadi ”kapan” dan ”berapa banyak order akan diantar”.
Chase, Jacobs and Aquilano (2006) menyebutkan ada beberapa macam tujuan pengadaan persediaan, yaitu:
  • Untuk menjaga independensi dari kegiatan operasi.
  • Untuk menunjang perbedaan dalam product demand .
  • Fleksibilitas untuk penjadwalan produksi.
  • Sebagai stok pengaman dalam hal keterlambatan kedatangan material.
  • Untuk mengambil keuntungan ekonomis berdasarkan ukuran Purchase Order.
demikianlah pengertian dari persediaan barang (inventory) terimakasih telah berkunjung ke tarakaninfo.com

0 Response to "Apa yang dimaksud dengan Persediaan Barang (Inventory)?"

Post a Comment